Komunikasi sebagai kegiatan sehari-hari yang dilaksanakan individu berhubungan erat dengan perilaku individu itu sendiri. Perbedaan perilaku individu dalam melakukan komunikasi dan atau berhubungan dengan orang lain merupakan situasi yang berkaitan dengan psikologis individu. Dalam pengertiannya, komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa).
Komunikasi juga berkaitan dengan asumsi manusia. Contohnya; Seorang anak kecil akan merasa takut dan terancam bila ia tidak memahami hal yang terjadi disekitarnya. Komunikasi yang dilakukan oleh antar petugas kesehatan.
Terkait dengan hal diatas, untuk mengetahui latar belakang sikap, perilaku dan asumsi pribadi (individu) setidaknya ada 3 (tiga) teori yang dapat digunakan:
1. Behavioristik. Menurut John Watson, perilaku yang terbentuk merupakan hasil suatu pengondisian. Hubungan berantai sederhana antara stimulus dan respon yang membentuk rangkaian kompleks perilaku. Rangkaian kompleks perilaku meliputi; pemikiran, motivasi, kepribadian, emosi dan pembelajaran. Skinner (1938); dengan Teori Operant Conditioning menjelaskan bahwa organisme akan membuat hubungan dengan stimulus dan respon serta hasil yang akan didapatkan bisa positif ataupun negatif.
2. Psikodinamika. Berasal dari Sigmund Freud, asal kata Psiche: pikiran, namun mencakup perasaan, pengalaman masa lalu, roh dan jiwa. Kata Dinamic: mengacu pada pandangan bahwa psikis individu bersifat dinamis, tidak statis. Teori dasar Freud menekankan pada dorongan insting dari individu untuk melakukan hubungan, baik internal maupun eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi kita dengan orang lain sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri.
3. Humanistik. dipelopori oleh Maslow dan Carl Rogers. Maslow (1954), hirarki kebutuhan manusia, harus dipenuhi untuk mengembangkan potensi dalam diri manusia. Carls Rogers, manusia memiliki dorongan dari dalam diri untuk berkembang dan bertumbuh menuju kematangan, yang akan menyebabkan individu mampu mengaktualisasikan kapasitas (potensi) yang dimilikinya. 4 Prinsip Teori Humanistik ( Atkinson, 1990)1.Manusia; central interest, menekankan bahwa manusia bukan semata-mata objek yg berespon terhadap lingkungan ketika diberikan penghargaan (reinforcement), namun manusia adalah makhluk dinamis yang mampu membentuk lingkungannya dan mampu berespon t erhadap lingkungannya itu. 2.Perilaku manusia adalah aspek yang penting untuk diselidiki, manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan memiliki kreativitas. 3.Subjektivitas lebih penting dr pd Objektivitas. Pengalaman manusia dan subjektivitas lebih penting dari pada objektivitas. 4.Nilai Kemanusiaan, pandangan tentang manusia terletak pada integritas dan keunikan manusia.
Berangkat dari semuanya kita mengetahui bahwa bangunan komunikasi yang melibatkan orang lain turut melibatkan asumsi atau penilaian sesorang terhadap lawan komunikasinya. Disini, dapat pula kita dapat ketahui bahwa membangun kepercayaan (tust) dari sebuah komunikasi tidaklah mudah, langkah pertama yang harus dibentuk dalam hal ini adalah suasana yang nyaman dalam interaksi. Hal inilah yang dikembangkan dalam konsep JOHARI WINDOWS.
Jendela Johari (Johari Window) adalah konsep komunikasi yang diperkenalkan oleh Joseph Luth dan Harry Ingram (karenanya disebut Johari) di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.
Konsep Johari Windows dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Jendela Johari pada dasarnya menggambarkan tingkat saling pengertian antarorang yang berinteraksi. Menurutnya ada 4 kategori, yakni
1) Area terbuka (open area) di mana orang lain lain mengetahui apa yang saya juga ketahui tentang diri say
a, merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. (Quadrant 1, the open quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self and others)
2) Area buta (blind area) di mana orang lain mengetahui sesuatu pada diri saya yang saya sendiri tidak mengetahui,merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. (Quadrant 2, the blind quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to others but not to self)
3) Area tertutup (hidden area) di mana orang lain tidak mengetahui sesuatu yang hanya saya sendiri yang mengetahui. Merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. (Quadrant 3, the hidden quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known to self but not to others)
4) Area tidak diketahui (unknown area) di mana orang lain dan saya juga tidak mengetahui apa yang sebetulnya ada pada diri saya. Merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. (Quadrant 4, the unknown quadrant, refers to behavior, feelings, and motivation known neither to self nor others)
Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.
Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.
Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi are Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.
Luft menawarkan beberapa saran untuk meningkatkan self-awareness kita:
- Ancaman cenderung menurun, kesadaran, rasa saling percaya cenderung untuk meningkatkan kesadaran
- kesadaran Paksa (paparan) tidak diinginkan dan biasanya innefective
belajar interpersonal perubahan berarti telah terjadi sehingga Quadrant 1 adalah lebih besar, dan satu atau lebih dari kuadran lain telah tumbuh lebih kecil
- Sensitivitas berarti menghargai rahasia aspek perilaku, dalam Kuadran 2, 3, dan 4 dan menghormati keinginan orang lain untuk menjaga mereka sehingga (Joseph Luft, Of Human Interaction (Palo Alto, CA: Mayfield, 1969)
Dalam proses fasilitasi, Jendela Johari dapat dijadikan salah satu model untuk membangun trust di dalam kelompok. Intinya, fasilitator harus membantu agar open area semakin lama semakin membesar, sementara area-area lain semakin mengecil.
Untuk memperbesar open area dan mengecilkan area buta, fasilitator dapat meningkatkan proses umpan balik antaranggota kelompok. Caranya bisa bermacam-macam. Cara sederhana bisa dalam bentuk game, misalnya satu partisipan menceritakan sesuatu yang bisa salah atau benar tentang dirinya dan kemudian partisipan lain diminta menilai, apakah cerita ybs benar atau salah? Cara lain misalnya dengan memberi feedback tertulis di kertas yang menempel di punggung semua partisipan. Cara lain adalah dengan menulis feedback dalam bentuk surat tanpa diketahui alamat pengirimnya. Namun, seiring dengan kedewasaan anggota kelompok, feedback dapat diberikan langsung secara lisan. Yang penting adalah anggota kelompok sudah paham dan terampil dalam memberikan feedback (teknik-teknik feedback akan dibahas dalam tulisan lain). Dengan kemampuan tersebut diharapakan fasilitator dapat menjadi pribadi yang terbuka, sebagaimana ciri-ciri dibawah ini:
|
SIKAP TERBUKA |
SIKAP TERTUTUP |
|
Menilai pesan scr objektif dg menggunakan data & keajengan logika |
Menilai pesan berdasarkan motif |
|
Membedakan dg mudah, melihat suasana |
Berpikir simplisis (berpikir hitam putih) tanpa nuansa |
|
Berorientasi pada isi pesan |
Bersandar lebih banyak pd sumber pesan dari pada isi pesan |
|
Mencari informasi dari berbagai sumber |
Mencari informasi tentang kepercayaan orang dari sumbernya sendiri, bukan kepercayaan orang lain. |
|
Lebih bersifat provisionalisme dan bersedia mengubah kepercayaan |
Secara kaku mempertahankan dan memegang teguh sistem kepercayaan |
|
Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan |
Menolak, mengabaikan, menolak pesan yg tdk konsisten dg sistem kepercayaan |
Untuk mengecilkan area tertutup dan area yang tidak diketahui, fasilitator mesti membantu mengembangkan suasana interaksi yang nyaman di kelompok dan juga mengenalkan dan membantu anggota menjadi pendengar aktif atau active listener (bahasan tentang teknik-teknik mendengar aktif akan disampaikan dalam tulisan berbeda). Dengan suasana interaksi yang nyaman dan keterampilan mendengar aktif yang mumpuni, diharapkan terjadi pembukaan diri (self disclosure) yang lebih besar dan penemuan bersama (common discovery).
|
SIKAP TERBUKA |
SIKAP TERTUTUP |
|
Menilai pesan scr objektif dg menggunakan data & keajengan logika |
Menilai pesan berdasarkan motif |
|
Membedakan dg mudah, melihat suasana |
Berpikir simplisis (berpikir hitam putih) tanpa nuansa |
|
Berorientasi pada isi pesan |
Bersandar lebih banyak pd sumber pesan dari pada isi pesan |
|
Mencari informasi dari berbagai sumber |
Mencari informasi tentang kepercayaan orang dari sumbernya sendiri, bukan kepercayaan orang lain. |
|
Lebih bersifat provisionalisme dan bersedia mengubah kepercayaan |
Secara kaku mempertahankan dan memegang teguh sistem kepercayaan |
|
Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan |
Menolak, mengabaikan, menolak pesan yg tdk konsisten dg sistem kepercayaan |


