
http://yatihashim.blogspot.com/2011/04/aduhaiii-anak2-ku.html
BANGSA yang maju adalah bangsa yang pendidikannya tinggi dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan. Pendidikan merupakan indikator utama dari kesejahteraan suatu bangsa. Kemajuan IPTEK, perekonomian yang terkendali, kebudayaan yang penuh dengan nilai adi luhung, politik bersih, dan pemerintahan yang bermoral juga rakyatnya sejahtera. Kesemuannya akan tercipta jika pendidikan secara universal bisa diaplikasikan dalam kehidupan. Ada kecenderungan pemerosotan daya tarik sekolah dalam kalangan pelajar. Semoga saja pandangan ini tidak terlalu mengada-ada. Banyak fakta-fakta umum yang dapat menyokong pendapat ini seperti makin banyaknya anak-anak sekolah yang berkeliaran dimana-mana pada jam belajar efektif, pelaksanaan disiplin yang macet, rendahnya perhatian masyarakat untuk menyerbu fasilitas pendidikan dibandingkan dengan fasilitas hiburan dan masih senangnya hampir sebagian besar orang bersikap bermalas-malasan. Kemerosotan daya tarik sekolah penyebabnya dapat ditinjau dari beberapa segi, seperti dari segi sekolah, rumah, masyarakat dan lain-lain. Walau bagaimana setiap segi ini saling mempengaruhi dan memberikan dampak negatif.
Meskipun telah banyak orang membahas tentang berbagai kritikan termasuk kritikan tentang metode mengajar namun belum tampak reaksi positif secara menyeluruh. Sampai saat sekarang metode mengajar lama masih cukup banyak digandrungi oleh guru-guru meskipun mereka telah puluhan kali mengikuti penataran-penataran dan hampir tiap saat disuguhi teori-teori. Bagaimana keadaan metode mengajar gaya lama? Yaitu metode yang membuat murid cenderung menghafal teks demi teks catatan yang diberikan oleh guru, terserah apakah mereka memahami atau tidak. Pelaksanaan metode lama ini telah berlangsung cukup lama. Mengajar dengan metode yang demikian cenderung bersifat dogmatik dan otoriter. Inilah penyebabnya kenapa sekarang murid-murid, malah juga sampai kepada mahasiswa cenderung membisu dan suka sebagai penonton dalam dinamika kehidupan. Bukankah hal ini yang sering kita jumpai dikelas, siswa yang pendiam, tidak kreatif dan responsif, padahal tentu kita akan merasa bangsa jika siswa kita tidak segan untuk bertanya dan bersikap kritis atau tertarik dalam belajar mandiri di luar sekolah.
Daya tarik, sebagai hasil pembelajaran, erat sekali kaitannya dengan daya tarik bidang studi. Namun demikian, daya tarik bidang studi, dalam penyampaiannya, akan banyak tergantung pada kualitas pembelajarannya. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa pengukuran daya tarik pembelajaran dapat dilakukan dengan mengamati apakah siswa ingin terus belajar atau tidak. Jadi, kecenderungan siswa untuk tetap terus belajar bisa terjadi karena daya tarik bidang studi itu sendiri, atau bisa juga karena kualitas pembelajarannya, atau keduanya. Untuk mempreskripsikan daya tarik sebagai hasil pembelajaran, maka tekanan diletakkan pada kualitas pembelajaran, bukan pada daya tarik yang berasal dari bidang studi.
Daya Tarik Pembelajaran Vs Minat Siswa
Pada dasarnya, setiap bidang studi memiliki daya tarik tersendiri, meskipun daya tarik ini amat tergantung pada karakteristik siswa, seperti: bakat, kebutuhan, minat, serta kecenderungan-kecenderungan atau pilihan-pilihan per-seorangan lainnya. Suatu bidang studi memiliki daya tarik tinggi bisa karena sesuai dengan bakat siswa, atau dibutuhkan secara pribadi oleh siswa, atau karena sekedar minat. Daya tarik inilah yang menyebabkan siswa ingin mempelajari bidang studi itu. Namun kecenderungan ini, bagaimanapun juga, dipengaruhi oleh bagaimana bidang studi itu diorganisasi dan disampaikan kepada siswa. Jadi, strategi pengorganisasian pembelajaran dan penyampaian pembelajaran memegang peranan yang amat peting untuk mempertahankan dan sekaligus menunjukkan daya tarik bidang studi. Meskipun demikian, strategi pengelolaan, yang berfungsi untuk menata penggunaan kedua strategi pembelajaran itu, peranannya tak dapat diabaikan.
Adalah tugas pembelajaran untuk menunjukkan daya tarik suatu bidang studi kepada siswa. Pembelajaran dapat mengubah semuanya. Suatu bidang studi bisa kehilangan daya tariknya karena kualitas pembelajaran yang rendah. Kualitas pembelajaran selalu terkait dengan penggunaan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran, di bawah kondisi pembelajaran tertentu. Ini berarti, bahwa untuk mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi, bidang studi harus diorganisasi dengan strategi pengorganisasian yang tepat, dan selanjutnya disampaikan kepada siswa dengan strategi penyampaian yang tepat pula.
Sebagai hasil pembelajaran, kecenderungan siswa untuk tetap belajar, adalah tanggungjawab pembelajaran, bukan tanggungjawab bidang studi. Pembelajaran lah yang harus mampu membuat bidang studi itu menarik, dan tidak sebaliknya. Bukan karena daya tarik bidang studi, kemudian pembelajaran menjadi menarik. Agar dapat mempreskripsikan strategi pembelajaran yang optimal, maka hubungan antara bidang studi dan pembelajaran, lebih tepat diungkapkan dengan hubungan sebab-akibat. Di sini, pembelajaran sebagai sebab dan daya tarik bidang studi sebagai akibat.
Menciptakan Daya Tarik Pembelajaran
Senada dengan konsepsi bahwa Kualitas pembelajaran selalu terkait dengan penggunaan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran, di bawah kondisi pembelajaran tertentu, sebagaimana disebutkan diatas. Sehingga penciptaan daya tari pembelajaran harus dimulai dari penggunaan metode yang terbukti efektif dan relevan dengan pembelajaran yang ada.
Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Metode pembelajaran ini diacukan sebagai cara-cara yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Cara-cara ini disebut juga sebagai strategi pembelajaran. Variabel metode atau strategi pembelajaran ini merupakan variabel yang paling esensial akan keberadaan pembelajaran. Karena variabel kondisi dan variabel tujuan merupakan variabel yang tidak bisa diubah dan harus diterima sebagai barang jadi, dan selanjutnya dipakai sebagai pijakan kerja. Peluang yang tinggal hanyalah bagaimana bagaimana memanipulasi variabel metode pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Variabel metode pembelajaran diklasifikasi menjadi 3 jenis, yaitu: (1) strategi pengorganisasian, (2) strategi penyampaian, dan (3) strategi pengelolaan.
Strategi Pengorganisasian Pembelajaran. Adalah metode untuk mengor-ganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, pe-nataan isi, pembuatan diagram, format, dan lainnya yang setingkat dengan itu. Strategi pengorganisasian pembelajaran lebih lanjut dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: strategi makro dan strategi mikro. Strategi makro: mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep, atau prosedur, atau prinsip. Strategi mikro: mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep, atau prosedur, atau prinsip. Strategi makro berurusan dengan bagaimana memilih, menata urutan, membuat sintesis, dan rangkuman isi pembelajaran (apakah konsep, prinsip, atau prosedur) yang saling berkaitan. Pemilihan isi, berdasarkan tujuan pem-belajaran yang ingin dicapai, mengacu kepada penetapan konsep-konsep, atau prinsip-prinsip, atau prosedur-prosedur yang diperlukan untuk men-capai tujuan itu. Penataan urutan isi mengacu kepada keputusan untuk menata dengan urutan tertentu konsep-konsep, atau prinsip-prinsip yang akan diajarkan. Pembuatan sistesis mengacu kepada keputusan tentang bagaimana cara menunjukkan keterkaitan di antara konsep-konsep, atau prinsip-prinsip. Pembuatan rangkuman mengacu kepada keputusan ten-tang bagaimana cara melakukan tinjauan ulang konsep-konsep, atau prinsip-prinsip serta kaitan-kaitan yang sudah diajarkan.
Strategi Penyampaian. Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan program pembe-lajaran. sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu: (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan informasi/bahan-bahan yang diper-lukan pebelajar untuk menampilkan unjuk-kerja (seperti latihan dan tes). Strategi penyampaian mencakup ling-kungan fisik, Guru, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan kata lain, media merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembe-lajaran. Itulah sebabnya, media pembelajaran merupakan bidang kajian utama strategi ini.
Secara lengkap ada 3 komponen yang perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian: (1) media pembelajaran, (2) interaksi pebelajar dengan media, dan (3) bentuk/struktur belajar mengajar. Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada pebelajar, apakah itu orang, alat, atau bahan. Ada 5 cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu: (1) tingkat kecermatan representasi, (2) tingkat interaktif yang mampu ditim-bulkannya, (3) tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya, (4) tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya, dan (5) tingkat biaya yang diperlukan. Interaksi pebelajar dengan media adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang dilakukan oleh pebelajar dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu. Bentuk belajar mengajar adalah komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada apakah Siswa (pebelajar) belajar dalam kelompok besar, kelompok kecil, perseorangan, ataukah mandiri.
Strategi Pengelolaan. Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pebelajar dengan variabel-variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran. Paling tidak ada 4 klasifikasi penting variabel strategi pengelolaan, yaitu: (1) penjadwalan, (2) pembuatan catatan ke-majuan belajar, (3) pengelolaan motivasi, dan (4) kontrol belajar. Pen-jadwalan penggunaan strategi pembelajaran mengacu kepada kapan dan berapa kali suatu strategi pembelajaran atau komponen suatu strategi pembelajaran dipakai dalan suatu situasi pembelajaran. Pembuatan ca-tatan kemajuan belajar mengacu kepada kapan dan berapa kali penilaian hasil belajar dilakukan, serta bagaimana prosedur penilaiannya. Peng-elolaan motivasional mengacu kepada cara-cara yang dipakai untuk me-ningkatkan motivasi belajar pebelajar. Kontrol belajar mengacu kepada kebebasan pebelajar dalam melakukan pilihan tindakan belajar.
Indikator Daya Tarik Pembelajaran
Variabel penting yang dapat digunakan sebagai indikator daya tarik pembelajaran adalah penghargaan dan keinginan lebih (lebih banyak atau lebih lama) yang diperlihatkan oleh siswa. Kedua indikator ini dapat dikaitkan, baik pada bidang studi, maupun pada pembelajaran.
Penghargaan dan keinginan untuk lebih banyak mempelajari isi bidang studi, merupakan hasil pembelajaran yang bukan hanya disebabkan oleh daya tarik bidang studi, tetapi terutama disebabkan oleh kualitas pembelajaran yang mampu memciptakan penghargaan dan keinginan itu. Oleh karena itu, maka titik awal pengukuran daya tarik, sebagai hasil pembelajaran, haruslah diletakkan pada variabel metode pembelajaran: strategi pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan pembelajaran. Variabel inilah yang paling menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
KEPUSTAKAAN
Khusnuridlo.Variabel-variabel-pembelajaran. http://www.khusnuridlo.net/2010/06/variabel-variabel-pembelajaran.html diakses 27 April 2011
http://data.tp.ac.id/artikel/13/Daya+Tarik+Pembelajaran.htm
Degeng, S.N. 1989. Ilmu Pengajaran dan Taksonomi Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan LPTK.
Ely, G. 1979. Instructional Design and Development. New York: University Pub-lication.
Reigeluth, C.M. 1976. In Search on Better Way to Organized Instruction: The Elaboration Theory. Journal of Instructional Development. 2(III) 8-15.
Twelker, P.A. 1972. The Systematic Develompment of Instructional: A Overview and Basic Guide to the Literature. Eric Clearing House on Media and Technology.
Like this:
Be the first to like this post.