Tag

, , , ,

Mengajar adalah merupakan proses membuat hasil belajar dapat tercapai (teaching as making learning possible). Hal ini selanjutnya secara kontekstual diterjemahkan sebagai beragam upaya yang dilakukan oleh guru dalam memudahkan suatu pembelajaran untuk difahami oleh siswa. Untuk itulah beragam alat dan bahan digunakan oleh guru untuk mencapai hal tersebut. Sebab pembelajaran tentu tidak akan bermakna disaat tidak memiliki dampak yang berarti terhadap siswa sebagai peserta didik. Meski dengan semua karakteristik mata pelajaran yang harus disampaikan oleh guru, tentunya penguasaan materi yang dimiliki telah cukup memberikan modal yang cukup besar untuk guru dapat membahasakan materi pembelajaran itu dalam bahasa siswa. Untuk itulah maka guru perlu menyusun langkah-langkah sistematis untuk melaksanakan pembelajaran. Dengan tahapan langkah yang sistematis, seorang guru berharap pembelajaran dapat berlaku sebagaimana dia inginkan dan siswa dengan mudah memahami materi pembelajaran betapa pun tingkat kesulitannya. Dalam hal ini terlihat betapa peran guru menjadi sangat penting untuk menjadikan pembelajaran menjadi hal menyenangkan.  Semua langkah-langkah yang telah disusun dan diuji keberhasilannnya oleh guru melalui pelaksanaan pembelajaran dikelas, dan yang telah teruji akan menjadi pedoman bagi guru lain. Pedoman inilah yang kita kenal kemudian sebagai model pembelajaran, sehingga dapat diartikan secara bebas sebagai pedoman atau petunjuk mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman ini memuat tanggung jawab seorang guru untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran.

Sehingga dalam penggunaannya model pembelajaran digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan  pemilihan  model pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat  (memorizing)  atau  menghafal  (rote  learning)  ke  arah  berpikir (thinking)  dan  pemahaman  (understanding),  dari  model  ceramah  ke  pendekatan discovery  learning  atau  inquiry  learning,  dari  belajar  individual  ke  kooperatif, serta dari subject centered ke learner centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa. Mencermati hal ini tampak jelas betapa pentingnya keterkaitan antara guru dan model pembelajaran. Selain sebagai pencipta model pebelajaran yang tepat untuk digunakannya dalam pembelajaran di kelas, guru juga dapat berperan sebagai pelaksana dari model yang dipilihnya. Untuk menerapkan model pembelajaran guru tentunya perlu memiliki pengetahuan tentang karakteristik setiap model yang ada. Tanpa hal itu tentunya model pembelajran tidak akan menghadirkan perubahan yang diharapkan dari sebuah pembelajaran. Guru perlu menyesuaikannya dengan kondisi siswa dan sekolah, keterbatasan alat dan bahan yang dimiliki dan hal-hal yang dianggap penting. Disinilah mengapa pengetahuan guru tentang model-model pembelajaran menjadi penting, agar dengan mengenal karakateristik setiap model seorang guru dalam mengkorelasikannya dengan kondisi pembelajaran sehingga mampu menghasilkan perubahan sebagaimana diharapkan.

Elemen Dasar Pembelajaran

Namun, keterkaitan model pembelajaran yang dirasa dibutuhkan dan penting untuk menghadirkan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas masih terkendala. Kendala tersebut salah satunya adalah ketersediaan literatur ilmiah yang memberikan pengetahuan guna memperluas pengetahuan guru tentang model pembelajaran. Dengan harapan seorang guru akan memiliki modal pengetahuan untuk mampu menghadirkan proses yang mampu membuat hasil belajar dapat tercapai. Literatur ilmiah yang dimaksud adalah semua sumber informasi ilmiah yang digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar dan penelitian, seperti buku, majalah ilmiah, majalah populer, dan surat kabar. Dalam hal ini buku mencakup buku tentang disiplin ilmu tertentu dan buku referensi seperti kamus, ensiklopedi, direktori, buku subyek indeks, buku peta, skripsi, tesis, dan disertasi. Sumber informasi lain yang dapat dipakai para guru, dosen, dan peneliti ialah non printed materials seperti kaset rekorder, kaset video, Compact Disc Read Only Memory (CD-ROM), Video Compatc Disc (VCD), micro film, dan sebagainya.

Berangkat dari pengertian literatur diatas maka peran dan fungsi perpustakaan sekolah menjadi sangat penting adanya. Sebab semua komponen yang termasuk dalam pengertian literatur ilmiah disekolah hanya aka nada di perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah adalah suatu tempat dimana para siswa memperoleh akses  terhadap informasi dan pengetahuan.  Perpustakaan merupakan fasilitas pendukung  proses pengajaran dan pembelajaran melalui penyediaan bahan pustaka dan pelayanan yang sesuai dengan kurikulum sekolah. Dengan fasilitas perpustakaan para siswa dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasi  mereka. Dalam manifesto IFLA (International Federation of Library Association), yang kemudian diratifikasi oleh  UNESCO pada tahun 1999, dinyatakan bahwa perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide-ide yang sangat mendasar terhadap berfungsinya dengan sukses  suatu masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan dewasa ini. Bagaimana pentingnya peran perpustakaan sekolah juga dapat disimak dari pernyataaan seorang mantan anggota komisi pendidikan di Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa apa yang dipikirkan oleh suatu sekolah tentang perpustakaannya adalah suatu ukuran apa yang dirasakannya tentang pendidikan.

Hingga saat ini, perpustakaan di sekolah-sekolah baik pendidikan dasar maupun menengah  di Indonesia  kelihatannya belum dipandang penting untuk peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini terlihat dari tidak berkembangnya perpustakaan di sekolah-sekolah terutama di luar kota-kota besar  atau bahkan ada sekolah yang tidak memiliki perpustakaan sama sekali atau jika ada pintunya lebih banyak terkunci atau tidak diminati  oleh para siswa dan guru. Beberapa perpustakaan yang masih bertahan hidup sebagian besar hanya memiliki koleksi yang sudah usang dan miskin dukungan dari administrator sekolah. Perlu diingat bahwa  tidak semua jenis perpustakaan  harus melestarikan koleksinya, fungsi semacam itu menjadi  kewajiban perpustakaan nasional dan daerah. Sedangkan perpustakaan sekolah yang dikenal bersifat dinamis,  seharusnya hanya mengoleksi karya yang relevan dengan pengajaran di kelas.

Perpustakaan Sebagai Elemen Keberhasilan

Sebagaimana kita percaya Pendidikan Dasar dan Menengah adalah merupakan elemen penting bagi pembentukan karakter dan keberhasilan generasi muda pembangun bangsa di masa yang akan datang. Pendidikan dan pembelajaran di level ini akan sangat menentukan bagaimana ke depan seseorang mampu berperan dan mempunyai daya saing dalam pembangunan bangsa dan negara. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah adalah tempat dimana tanggungjawab penting ini disandarkan. Individu dan institusi di dalamnya harus mampu membuat strategi jitu guna menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi dalam rangka pembentukan karakter dan keberhasilan dalam pencerdasan kehidupan bangsa.

Salah satu elemen penting dalam strategi pendidikan dan pembelajaran di sekolah yang sering ‘dilupakan’ oleh para pemangku dan pengelola sekolah adalah perpustakaan. Sudah menjadi ‘rahasia’ umum bahwa masih banyak sekolah yang menganggap bahwa perpustakaan ‘bukan elemen’ prioritas bagi proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah. Perpustakaan sering kali sulit ditemukan keberadaannya di sekolah, atau kalaupun ada ditempatkan pada ruang yang sempit seperti ruang UKS, gudang atau pojok-pojok gedung sekolah yang ‘pengap’ dan hampir tidak ‘terjamah’. Bahkan untuk mengelolanyapun hanya mengandalkan ‘sisa-sisa energi’ dari sumber daya yang ada di sekolah. Intinya, perpustakaan masih dianggap bukan bagian penting dalam proses akademik di sekolah.

Kondisi-kondisi tentu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, mengingat tanggungjawab yang besar disandarkan pada institusi pendidikan dasar dan menengah ini. Masyarakat dan berbagai organisasi mulai ‘gerah’ terhadap kondisi-kondisi yang terjadi. Sehingga mulai ada ‘tuntutan’ agar perpustakaan benar-benar ‘dimasukkan’ dalam elemen pengembangan pendidikan dan pembelajaran. Bahkan pada tahun 2000, UNESCO dan IFLA telah mengeluarkan manifesto tentang Perpustakaan Sekolah yang menyebutkan: “Governments, through their ministries responsible for education, are urged to develop strategies, policies and plans that implement the principles of this Manifesto”.

Manifesto itu menegaskan bahwa Pemerintah melalui menteri-menterinya yang bertanggungjawab atas pendidikan, diwajibkan mengembangkan strategi, kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana yang mampu mengimplementasikan prinsip-prinsip manifesto ini. Selain itu dalam misinya, manifesto ini ingin menegaskan bahwa perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan gagasan yang menjadi dasar untuk membentuk masyarakat saat ini yang berbasis informasi dan ilmu pengetahuan. Perpustakaan juga harus mampu membekali siswa dengan kemampuan pembelajaran sepanjang hayat dan mengembangkan imajinasinya, sehingga membekali mereka menjadi warga negara yang bertanggungjawab.
Manifesto itu menurut Natajumena (2008) sesuai dengan misi UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggungjawab.

Data terakhir, sudah ada upaya dari pemerintah melalui Kemendiknas paling tidak untuk Sekolah Dasar (SD) yang menargetkan pada tahun 2015 seluruh SD di Indonesia harus sudah mempunyai perpustakaan. Sampai saat ini, dari 148 ribu SD yang ada di Indonesia, ada 50 ribu SD yang sudah memiliki perpustakaan, dan Kemendiknas menargetkan setiap tahunnya akan ada tambahan 20 ribu SD yang memiliki perpustakaan (Media Indonesia, 3 juli 2010). Tentu ini sebuah kabar baik juga bagi sekolah-sekolah yang saat ini belum memiliki fasilitas perpustakaan. Hal ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan fasilitas pendidikan dan pembelajaran yang memadai bagi generasi muda di Indonesia.

Sebagai catatan akhir tentang perpustakaan sekolah adalah bagaimana kualitas koleksinya dan sejauhmana kebermanfaat tulisan itu bagi siswa. Koleksi perpustakaan sekolah adalah beragamnya jenis sumber atau bahan pustaka tergantung pada kebutuhan pengajar/staf pendidik, ukuran atau jumlah koleksi, bagaimana cara mengaksesnya dan keterbaruan. Banyak hal sebetulnya yang dapat dilakukan untuk mengelola koleksi, mulai dari pengadaan, pengolahan teknis (seperti inventarisasi, klasifikasi, pelabelan, penempatan, pemilihan), dan memang tentunya itu membutuhkan perhatian yang serius dari pengelola perpustakaan. Dalam manajemen koleksi sebetulnya jumlah bukan suatu hal yang menjadi sangat prinsip, akan tetapi lebih penting bagaimana koleksi itu dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak.
“It does not matter how many books you may have, but whether they are good or not.” – Lucius Annaeus Seneca (3 B.C.-65 A.D.), Epistolae Morale

Bahan bacaan:

Disarikan dari berbagai sumber serta Makalah:PERPUSTAKAAN SEKOLAH:Sebuah elemen penting dalam keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di sekolah (arif@gadjahmada.edu / website: http://arifs.staff.ugm.ac.id)

Sumber gambar: http://akhidul.info/digital-library-kecanggihan-iptek-dan-media-online/